Thursday, September 2, 2010

PERJALANAN ANGIN


(untuk Raiga Ferdinand)


Angin bertiup tanpa batas, lembut
Menyapa pohon cemara besar
Yang lelah di pinggiran jalan

Ilalang bergoyang sambut datangnya
Angin yang terbatuk dari utara
Melumat asa - tak berbalas

Sepi,
Harmoni pun sepi
Sesepi rel kereta stasiun Beos
Saat jarum jam berdetak
Untuk yang kesekian kalinya

Angin bertiup tanpa batas, lambat
Di langit Jakarta ataupun Karawang
Rindu membakar dada – kian panas

Bertiupkah angin di langit Moskwa
Yang kau tatap dengan mata cerahmu?
Mata yang sama cerahnya dengan tiupan angin utara
Yang kurindukan


                                            
Jakarta, Medio 2001

No comments:

Post a Comment