Thursday, September 2, 2010

PERJALANAN ANGIN


(untuk Raiga Ferdinand)


Angin bertiup tanpa batas, lembut
Menyapa pohon cemara besar
Yang lelah di pinggiran jalan

Ilalang bergoyang sambut datangnya
Angin yang terbatuk dari utara
Melumat asa - tak berbalas

Sepi,
Harmoni pun sepi
Sesepi rel kereta stasiun Beos
Saat jarum jam berdetak
Untuk yang kesekian kalinya

Angin bertiup tanpa batas, lambat
Di langit Jakarta ataupun Karawang
Rindu membakar dada – kian panas

Bertiupkah angin di langit Moskwa
Yang kau tatap dengan mata cerahmu?
Mata yang sama cerahnya dengan tiupan angin utara
Yang kurindukan


                                            
Jakarta, Medio 2001

PADA CINTA MATI

Pertemukan Aku
Dengan namanya di udara
Kala puspa sumringah di dada
Dan kekeringan menjerat jiwa – jiwa merdeka

Lalu serta merta tersirat suasana
Dengan tinta fatamorgana
Hingga terpantul suara – suara
Pada dinding keras yang hampa

Pertemukan Aku
Dengan siluet beraroma napasnya
Terampas pesona muslihat
Jiwa yang kerdil berlari mengadu

Kembalikan kemurnian sesaat
Yang ia rebut dalam keheningan
Padahal aku tiada kuasa
Merangkai maslahat yang berdatangan
Segala menderu teredam
Lalu berlalu dalam suara – suara
Akan kubawa hingga pusara

Jakarta, 5 Agustus 2008

DENDAM

Kembara hati yang sunyi senyap
Lama terhembus tanpa arah
Tapi tetap berujung belenggu
Pada satu kembara bebas yang terlupa


Ku tak peduli pada kabar oleh angin
Tentang langit disana
Sebab duka awan kelabu
Membikin tuli kedua kupingku


MAAF tak kuasa menutup lubang
MASA gagal mengisi hampa
Satu rupa kerap mendidihkan darah
Dada menggeram tak berdaya


Jika kurobek langit biru itu
Dan kuisi dengan darahku
Akankah Ia ingat tentang malam – malam
yang kuhabiskan
Dengan pena serupa belati
Menerjang, menikamnya berkali – kali
Lalu kukuliti dosanya tanpa henti

Hingga tiba masanya
Sang pengkhianat benar – benar mati
Dalam puisi – puisi


Radio Dalam, 5 Februari 2009

BERPULANG


Dibalik semburat langit merah
Aku bertemu dengan-Nya
Kala aku tertegun menatap mega
Dengan tangan kotor menadah
          dan suara parau yang berdoa

Lukaku menganga, mati rasa
Merindu sejuk sabda-Nya
Yang turun lewat sayap – sayap Jibril
Sementara aku terlena
          euphoria dalam fatamorgana

Lalu ketika jalan tak berbatu
Dan hajatku tak pernah buntu
Tak sekalipun aku mengadu
Hingga jemu membuatku biru
           dan hujan larutkan aku dalam haru

Jadi kudekap lagi sajadah tua
Sambil bersumpah atas nama Madinah
Pada Ia yang tak pernah mendua
Hingga fajar kembali berkilau
            dan suaraku tak lagi parau

Apakah yang harus kujawab
Jika hidup adalah refrain yang berulang
Dan bila Izrail bertandang
seraya bertanya kapankah ku ingin pulang?


Pondok Indah, 19 Februari 2009

LITTLE BLACK BOOK

Kumpulan imaji keji yang kembali
Bersama kepak sayap menggelepar mati
Kala lembar buku hitam terbaca
Dalam sebuah reuni sendiri

Apakah dulu aku adalah aku?
Sebentuk raut menggurat waktu
Mencabut pasak dalam kalbu
Lalu apakah aku pernah layu?

Kalimat pentasbihan hari – hari dimana matahari mendingin
Yang ditulis setiap malam dengan tubuh menggigil
Kini bangkit menari berbayang, menjilat layaknya api
          kala lembar – lembar buku hitam mengantarnya pulang

Ataukah aku yang hitam?
Ataukah aku begitu lupa ingatan
         akan segala luka – luka
Kala tikaman teredam menembus tulang
Terasa bagai embun sejuk yang senantiasa kuinginkan

Pondok Indah, 22 Agustus 2009 (Revised : 16 September 2009)

1 SYAWAL

Gema takbir sambung – menyambung
Membelah fajar pertama di bulan Syawal
Bagai ritme seribu peluru berdesing
Melesat dan memantul di langit Jakarta

Kumandang takbir dari menara agung Istiqlal
Yang bergema hingga peron Gambir
Terasa mencairkan lantai –lantai dingin
Menggedor setiap dada yang ada disana

Hingga air mata menggenang tak mengalir
Dikutuk kesombongan yang turun - temurun

Kala pujian dirapalkan tak terputus
Terus menerus oleh bibir – bibir yang taat
Kepada Empu-nya semesta
Terdengar sebagai pengakuan kekerdilan manusia
    di tengah kesucian sekejap

Akankah kami selamanya kembali?
Atau goyangan di sampan hanya teredam sehari?
Apakah kami cuma rindu saudara di kampung?
Atau hanya girang pagi ini akhirnya boleh makan lagi?

Stasiun Gambir, 20 September 2009

ZIARAH KUBUR

Aku suka ziarah kubur - satu jam kurang yang buatku eling
Gemerisik angin kuburan di dedaunan pohon kapuk, menuntun langkahku
Yang terseok bangkai - bangkai kamboja berkelopak ganjil
Menapak pepasir waktu diantara ratusan nisan beku

Menuju kuburan keluargaku – nenek moyangku
Tempat silsilah darah yang terabadikan
Oleh susunan marmer, porselen, dan batu berlumut
Prasasti tentang perayaan kehidupan jasad –jasad terlentang
Yang membujur ke barat hingga hancur menjadi abu

Kujumpa nenekku disana
Yang dulunya berkharisma seorang sekretaris pabrik gula
Yang tak jemu naik – turun kereta Cirebon – Jakarta
Dengan tangan berurat halus dan rambut seperak air sungai di siang hari
Tak ada lagi yang membacakan buku cerita “Er Was Eens..”
Tak ada yang tersisa dari nenek – nenekku
Charlotte - Lottje, Wiesje, Fientje, Frieda – Ida, dan kesayanganku Emma – Zus Emm
Tak ada, kecuali foto – foto buram dan memori yang menguap hilang

Aku berdoa di setiap ziarah kubur
Agar semua jasad yang melapuk menjadi utuh di tempat lain
Aku bersaksi pada setiap ziarah kubur
Inilah refleksi sejati sebuah transisi dimensi

Kuburan Pronggol – Cirebon, 20 September 2009